Kamis, 03 Desember 2015

"STUDY" BANDING KE BANDUNG (UPI)









(PUISI) KETIKA CINTA MEMBUAT HATIMU BERDEBAR




                DALAM KERAMAIAN AKU MENCOBA TERDIAM
                MEMBISU DENGAN MENEKAN TOMBOL MUTE
    PADA ANGIN-ANGIN YANG BERTERBANGAN
                NAMUN TETAP SAJA SUARA HATIKU TETAP TERDENGAR
                DEGUP HATI TAK MUNGKIN KUSEMBUNYIKAN
AKU MENGALAH PADANYA
KULANTUNKAN MUSIK KEHIDUPAN
KERAS-KERAS PENUH RASA
TAPI TETAP SAJA GETARAN ITU MEMABUKKAN
TAK BISA KU REDAM

Rabu, 25 November 2015

AKU, PENYIHIR BERKACA MATA DAN KOTAK PANDORA YANG RUSAK


Tanggal  24 November 2015

         

Malam ini aku tak sengaja membuka sesuatu hal, kotak  pandora. Hal itu membuatku teringat suatu hal tepat seminggu lalu tanggal 17 November 2015, dikala matahari mulai terik diantara angin panas yang meniup tengkuk basah. Aku membuka kotak pandora bernama ‘The Mortal Instrumen, City of bones’ Aku menemukannya tidak sengaja diantara tumpukan kotak yang berserakan diantara memori benda bernama ‘PC’.
          Aku berpikir diantara itu semua, apakah sebuah gambar begitu terlihat jelas perasaan didalamnya, layaknya sebuah lantunan musik yang mencerminkan isi hati sang pemusik. Apakah sebuah gambar juga bernilai sama? Apakah ketika kita menggambar seseorang dalam sebuah sembunyi, maka orang akan menilainya sebagai sebuah rasa istimewa? Apakah terlihat jelas seperti itu? Aku tak mengerti.
          Aku tak mengerti mengapa gambar itu bisa terwujud, yang aku tahu aku hanya ingin menggambarnya. Menggambar sebuah cerminan seseorang yang kufoto diam-diam, aku hanya ingin menggambarnya didalam buku sketsaku. Hanya itu yang kuinginkan. Namun hanya dengan sepatah kata saja, sebuah rahasia pandora terbuka dengan begitu mudahnya. Aku berpikir aku menguncinya dengan rapat. Aku pikir walaupun ada yang bisa membukanya, mereka tidak akan menyadarinya, arti dalam setiap goresan yang kuberikan. Namun, aku sekarat.

Senin, 23 November 2015

TAMPARAN KERAS GADIS TAK BERHARGA (CATATAN PERINGATAN)


            Apa yang akan kau lakukan kawan, setelah mendengar dogma-dogma yang di latunkan berkali-kali. Apa yang ingin kau lakukan?. Apa kau ingin terpuruk dalam lubang yang kau bangun sendiri. Apakah kau suka seperti itu?. Ingat teman, masa depanmu ada di tanganmu sendiri. Masa ini adalah masa emas, masa penentuan. Ketika kau meghancurkan masar ini dengan kemalasan, maka pada saat inilah kau telah menggali lubang kegelapanmu sendiri. Apakah kau menginginkannya kawanku? Apa kau tidak melihat kawan-kawanmu yang mengelilingimu mencemoohmu dalam hatimu. Mereka telah jauh didepanmu, meninggalkanmu dalam kehacuran yang semakin dalam dan semakin dalam. Apakah kau suka akan hal itu, kawan ku?. Tidakkah kau sadar kemalasanmu ini akan membuat penyelasan gila yang tak kan bisa kau tanggung di kemudian hari.
            Bisakkah kau lihat kawanku, didepanmu ada kawanmu yang telah ke-luar negeri hanya karena dia mau meenuliskan sepatah dua kata bahasa inggris, karena dia setidaknya mencoba melakukan sesuatu yang kau malaskan. Tidakkah kau tertampar karenanya?.
            Pkirkan apa yang benar-benar kau inginkan, apa yang benar-benar menjadi mimpimu? Apakan menjadi guru yang sempit ilmu adalah mimpimu? Apakah rasa nyamanmu kali ini menjadi suamu?. Apakah tenggelam dalam perasaan yang galau berhari-hari, bermingu-inggu bahkan berbulan-bulan adalah strategi hidupmu. Tidakkah kau telah tertampar dengan apa saja yang telah disampaikan oleh Rijal Ramadhani pada pidatonya tanggal 21 november 2015 itu, tidakkah kau sadar tentang apa saaja yang telah kau lakukan selama ini.
            Bahwa kau tidak mendapat apap-apa, kau melakukan segala sesuatu tidak dengan sesungguh hati, kau melakukannya masih setengah-setengah. Tidakkah kau sadar akan kelemahan terbesarmu itu. Apa yang ingin kan kau sebenarnya?.
            Kau harus rela hidup menyedihkan, untuk menjadi orang besar. Namun apayang kau lakukan saat ini, kau hidup dalam zona nyamanmu, kamu mengancurkan dimrimu sendiri, sedikit demi sedikit tanpa kau sadari. Tapi kau harus sadar sekarang temenku. Kau harus hidup nekat. Kau harius menghancurkan egomu sendiri. Buang jauh-jauh. Hancurkan perasaan yang tak penting itu. Hancurkan lupakan semua hal yang membatasimu, yang menghalangi arah gerakmu.
            Hiduplah layaknya Nabi muhammad dan KH. Ahmad Dahlan yang merupakan intektual sejati. Mereka dapat memikirkan 100 tahun kedepan, dulu mereka tidak dapat dipahami, namun sekarang orang-orang sadar betapa hebatnya mereka. Ah,, kau bodoh kalau seperti ini. Fokuslah pada satu tititk. Dari pada setengah-tengah mending hal itu kau tinggalkan saja.
            Sadarlah, sadarlah akan waktu yang semakin berlari cepat menauhimu. Takutlah akan kesempatan yang akan meninggalkanmu. Sadarlah kau benar-benar sukakah menjadi orang biasa?. Bersabarlah kawan, karena sakitmu kali ini akan menjadi bahagiamu kedepan.